8.24.2011

Kemarau


 

Aku ingin menulis sesuatu setiap kali berjumpa denganmu.

Dari sini aku bisa melihat kau sedang mengintipku dibalik jendela. Kadang kau ada diatas sandal yang kupakai, atau diatas dipan dimana aku biasa berbaring.
Tapi kemana kau sekarang? Aku tidak melihatmu terakhir ini.
Ada sesuatu yang terlupa saat aku berjumpa denganmu kemarin. Kau terlihat lesu.
Mengapa? Sedang tidak enak badan ya?

Seperti yang pernah aku katakan padamu, aku punya tiga impian kemarin, sekarang dan seterusnya.
Sebuah impian besar, sederhana dan satu impian kecil.

Aku pernah berharap agar menjadi aladin. Sehingga Jin mengabulkan tiga permintaanku itu.
Tapi aku bukanlah kartun aladin ataupun jasmine.
Honestly, diantara ketiga mimpi itu, salah satunya aku ingin bersamamu.
Aku bosan hanya memandangmu dari jauh. Aku bosan.
Bisakah kau berhenti memberiku air hanya satu sloki?
Aku ingin satu gelas penuh. Tanpa soda, ingat!

Mari berjalan bersamaku dibawah hujan dengan kaki telanjang. Lalu biarkan hujan menyembuhkanmu.

8.21.2011

Melati dari Jayagiri

Melati dari Jayagiri
Kuterawang keindahan kenangan
Hari-hari lalu di mataku
Tatapan yang lembut dan penuh kasih ...
Kuingat di malam itu
Kau beri daku senyum kedamaian
Hati yang teduh dalam dekapan
Dan kubiarkan kau kecup bibirku
Mentari kelak kan tenggelam
Gelap kan datang dingin mencekam
Harapanku bintang kan terang
Memberi sinar dalam hatiku
Kuingat di malam itu
Kau beri daku senyum kedamaian
Mungkinkah akan tinggal kenangan
Jawabnya tertiup di angin lalu

malam


Hari ke-20 RAMADHAN
Minggu, 21 Agust. 11-- 21:40 aku masih asyik didepan laptop dengan jari yang terus beraksi diatas huruf, abjad-abjad.
Sempat kaget waktu liat tv, seorang wanita menarik sebuah pesawat 32ton.

Aku mengintip ke jendela
Malam memojok bersama selimut bulu yang baru
seperti mengisyaratkan ingin istirahat sebentar
Diluar udara dingin
Pohon tidak bergoyang ditiup angin
Sepi!

Mungkin aku disebut manusia merugi jika tidak beranjak, ambil wudhlu dan segera shalat.
Berdoa!! Bisikan dari arah kanan bersamaan dengan ibu yang menyuruhku berhenti.
Semoga malaikat mengunjungi rumahku, melihatku, berada disisiku, dibelakangku, dimana-mana.
Dan meng’amin’i permintaan permohonanku yang sederhana ini.

Selamat malam_

cried out


Yang saya rasakan malam ini--haus sekali. Mungkin akhir-akhir ini saya sering menangis.
Ada hubungannya atau tidak, saya tidak begitu peduli.
Saya hanya ingin mengakui, saya sedang terluka!
Tangisan ini juga bukan senjata.
Saya telah memiliki ancang-ancang untuk belajar melompat lebih tinggi sebelumnya.
Baik, menangis dululah yang puas!

Kamu pernah menangis. Kalian juga pernah menangis.
kalian menagis justru ketika saya masih sangat bisa berdiri kuat.
Mungkin saya harus banyak belajar darimu kawan. Dimana letak jiwa yang kuat itu?
Mau bantu saya menemukannya? Mungkin jiwa ini sedang transparan.
Terserah kamu bilang apa.. aku mengerti kamu peduli. Mungkin ini drama dan saya pemainnya. Terimakasih, tapi jika kita bertemu saya yakin, kita tertawa lagi.

Seseorang yang kuat justru terlihat sangat lemah ketika ia sedang menangis.
lemah, ya. Lebih lemah dari yang lain.
Sayang! Kalian tidak lihat itu dibelakang.
Seperti halnya ayah yang selalu meledak- mungkin akan membuat seorang anak berlari ketakutan namun sang anak masih tertawa.
Sangat berbeda. ayah yang tidak pernah marah akan terlihat lebih (seram)-hanya dengan pelototan yang kurang dari dua detik.

Aku tidak menangis saat jatuh dari sepeda, aku tidak menangis karena dimarahi ayah dimarahi guru, aku tidak menangis saat kulitku tergores, aku tidak menangis kakiku berdarah, meski tubuhku bergetar hampir pingsan.
Aku ini masih seperti dulu.

Mungkin aku lembut tapi aku tidak lemah, mungkin aku menangis tapi aku tidak kalah.
Aku memang pernah berjanji untuk tidak menangis lagi. Perjanjian yang bodoh menurutku, seorang kesatriapun akan menangis ketika mendapati sahabatnya mati.

8.20.2011

sepatungu


Tidak satu aku melihatmu dua
Dua pasang sepatu yang sama
dua gadis berbeda
hebat
Tidak sengaja, hari tadi kami kembar
Banyak tawa
kemudian pergi jalan

R!




Segala sesuatu itu butuh proses.
Selama proses itu ada, artinya akan ada sesuatu yang dihasilkan. Meski belum dapat ditentukan kapan dan bagaimana. Tapi aku yakin proses yang lama akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar, baik nilai atau harganya. Proses belajar, proses apapun.
Termasuk proses untuk menemukan seorang yang tepat.
Begitulah hidup, segala sesuatunya tidak akan lepas dari sebuah proses.

Waktu menulis ini, tiba-tiba aku mengingatmu.

Proses mencintaimu yang tidak sederhana tentu saja.
Berawal dari ketidaktauan mengenai siapa kamu, namamu, tempat tinggalmu dan segala sesuatu tentangmu. Aku tidak tau sama sekali. Tidak ingin tau.
Tapi ada sesuatu yang memaksaku. Memaksa diri untuk bertanya “siapa dan yang mana”
Penasaran itu ada.

Aku bisa memandangmu kala itu, dari balik jendela kelas muram, agak jingjit. Kau tepat berada dihadapanku. Berjumpa denganmu didepan kelas, dijalan, dikolam renang adalah hal yang menyenangkan. Setidaknya ada yang bisa aku lirik.
Ada sesuatu yang menarik pengelihatanku saat itu. Sesekali aku menoleh kearahmu dan memastikan kaupun sedang melihatku. Saat pandangan kami bertemu, ingin rasanya melempar senyum padamu namun berat.berat.

Rasa itu berlalu
Seperti hembusan angin yang menjadi dingin
Tak diingat sama sekali
Tapi selalu kurindukan

Kembali. Kini kamu ada dilayar handphone dengan sejumlah angka berderet (tanpa nama).
Kehadiran itu seperti sebuah CD memorian yang diputar ulang. Atau seperti album kenangan berdebu yang tidak sengaja dibuka hendak dibersihkan.

Aku tau, hatiku loncat-loncat saat mengenalmu kembali. Sedikit lebih dekat kali ini.
Tidak hanya senyum, aku menghabiskan waktu berdua bersama gagang telepon yang mulai panas.
Aku dapat mendengar bisikan dan merasakan hembusan nafasmu disana.
Hatiku bilang “ingin jatuh cinta lagi”
Benar, pikiran dan hati sinkron. Mereka ingin kamu ada disini tuan. Maukah?
Menunggumu dipinggir jalan dekat sekolah itu mengesalkan!
Memandangi teman-teman yang hendak pulang, menyapa dan melambaikan tangan.
Tapi hatiku senang melihatmu datang.
Jika dulu aku tidak mengenalmu, mungkin sekarang juga.
Kini tak lagi sama.
Entah darimana seperti ada masa dimana kita pernah besama.


Tiba-tiba aku sedih, mengingat tentangmu untuk kedua kalinya. Pilu.
Kali ini aku melihatmu lebih seperti air mata yang jatuh.

Mencintaimu tidaklah mudah. Terkadang aku yakin, kemudian ragu, yakin, ragu.
Aku mencintaimu bukan untuk sementara. Percayalah.
Sayang
aku merasa ada kalanya kau mencintaiku penuh-penuh kemudian menarik kembali cinta itu perlahan. Kamu tau, betapa menyakitkan rasa itu.
Memberikan harapan, kemudian dihancurkan kembali. Aku kangen, tapi kau tidak peduli.
“aku selalu cinta, tapi kamu tidak”

Melihatmu dengan orang lain itu tidak enak, seperti dipaksa minum obat pahit tanpa diberi minum.
Walau hanya foto atau mimpi sekalipun. Melihatmu berbincang dengan seseorang. Denganku tidak pernah se’asyik itu.
aku mengatakan “tidak apa-apa” padahal mataku berurai air mata.
Selama bersamamu, aku menemukan bahwa cinta ini murni. Mungkin aku hanya akan meminta imbalan yaitu hidup bersamamu. Terlalu dalam.
Kemudian aku harus menerima kenyataan bahwa cinta ini tidak ada. Aku tidak ingin menangis lagi.
Ada kata CUKUP menahan tubuhku yang  hampir jatuh.
Aku ingin mencintaimu seperti anak kecil saja. Seperti dulu. Hanya saling melihat tapi tidak saling memandang. Saling bertemu tapi hanya melihat dan melambai dari kejauhan.
Lalu aku menentukan sebuah keputusan. Mungkin aku harus beranjak, move on, melepaskanmu utuh. Hingga tidak ada sisa lagi dihatiku. Saling melepaskan itu lebih bijaksana.
Sangat berat mengatakan hal yang tidak aku ingini.
Ada tanda tanya besar diwajahmu. Namun terlalu sulit jika aku jelaskan.
Kata TIDAK menjelma menjadi sebuah air mata. Kasihan ia tidak bisa menjerit. Aku sudah membekapnya dengan kain berlapis-lapis dan menyimpannya dipaling pojok, diikat.

Kau akan melepaskanku mudah. Begitu saja.
Tapi aku salah. Menyayangi itu, merelakan pergi atau justru dengan penolakan lembut?
Aku suka caramu.
Mempertahankan itu hebat menurutku. Sangat keren.
Romantis. Aku melihat kesungguhan dimata itu. Seolah berkata aku tidak bisa tanpamu. Benarkah??
Memelas tapi tetap tersenyum.
Kau takut aku berpaling? Sungguh?
Berpaling itu hanyalah soal waktu. Tidak ada orang yang tau masa depan.
Menoleh dan berbalik badan itu mudah. Tapi sulit untukku, karena aku tidak mau itu.
Tertawa bersamamu aku suka. Aku suka duduk dekat-dekat denganmu. Nyaman berada disisimu, merasa terlindungi walaupun aku tetap sakit perut. Aku suka bahumu, ingin bersandar disitu.
Aku suka wangi parfummu. Pelukmu mungkin menyembuhkanku. 
Tidak ada kata kesempatan, tapi hanya ada keyakinan. Aku malah bersyukur telah memiliki seseorang. Dengar, aku tidak akan melepaskan tanganmu.
Aku berdoa pada Tuhan, jika boleh aku ingin memilikimu. Aku hanya ingin hidup bersamamu.
Tuhan hanya tersenyum saat itu.

8.19.2011

Meutia Yohanes



Aku mengenalnya sebagai sosok yang sempurna. Wanita sederhana yang takut air.

Saat itu aku terjatuh dari terotoar, bagaimananya aku tidak ingat. Mungkin pikiranku sedang kacau. Pergelanggan kakiku terkilir sedikit menyakitkan sehingga sulit untuk berdiri.

Menjelang maghrib jalanan sepi, membuatku betah duduk berlama mengusap kaki-sambil sedikit meringis. Dari ujung mata aku dapat melihat seorang wanita hitam manis agak sipit, segera mengangkatku berdiri tanpa basa basi.
Iya mengantarku pulang dengan kakiku yang mulai membengkak. Naik ojeg. Itu keren!

Perkenalan yang cukup sigkat dengan tempat yang tidak terduga.
Cici. Begitulah Meutia memanggilku. Panggilan akrab yang sering aku gunakan juga pada seseorang.
Dalam bahasa Chinese cici itu berarti kaka. Mungkin karena usiaku sedikit diatasnya.
Tapi dengan senang hati jika ia ingin menganggapku saudara perempuannya.

Hingga saat ini ia sering mengunjungiku. Menemani orangtuaku yang sedang sakit, mengasuh keponakannku, jalan-jalan *baca buku gratisan. Banyak hal aku lakukan bersamanya.
Ia akan lebih dulu tau daripada aku. Apapun. Sekalipun itu mengenai diriku.
Aku juga pernah menghampiri rumahnya-masuk kamarnya. Meja belajarnya penuh obat. Disana tertulis Nn. Meutia Yohanes.
Mungkin ia sedang sakit, batuk,pilek, radang tenggorokan, hydrophobia atau apalah. Aku tidak mengerti soal dunia kedokteran.
Bertanya soal itu? tidak cukup penting untukku. Akupun tidak ingin tau. Aku hanya tau dia bukanlah sosok Ariel putri duyung, karena ia sama sekali takut air. Namun bukan berarti ia tampil dengan kusut seperti rambut yang jarang dikeramas.
Justru dia sangat cantik, sosok yang ideal untuk seorang model menurutku. Hebat! Dia punya koleksi buku yang banyak.

Tentu saja, aku tidak pernah melihatnya menjalankan ibadah-sholat. Tapi aku pernah membantunya menghias pohon natal. Aku ingat benar lirik lagu lagu religi favoritnya.

Merasa bersalah, aku pernah memarahinya karena memakai kerudungku tanpa ijin. Entah dengan alasan apa, aku tidak bisa menjudge “tidak boleh”. Padahal ia terlihat anggun. Mungkin kalah cantik.
Sesekali ia membuatku kesal. Tidak ada sahabat yang sempurna, namun Meutia tetaplah sosok yang istimewa. Meski perbedaan adalah batas antara kami berdua.
Hatiku berbisik sambil mengacungkan jempol “aku cocok”

Dengan apa aku mengenalimu?
Mengenalimu membuat hal remeh menjadi mengejutkan-
Mengingatkan bahwa hidup itu beragam
Mengajari sesuatu, bahwa aku tidak sendirian.

Kita bersahabat seperti saudara..
Hari terasa indah saat kita bersama.