3.15.2012

Cerita Malam


Terkadang kita hanya butuh satu tempat untuk bertanya, mungkin lebih pada seseorang yang berpengalaman agar kita langsung mendapat jawaban. Tapi tidak juga, seseorang yang bisa diajak bercerita saja setidaknya bisa lebih menyenangkan.

Hanya satu dari sekian banyak pilihan disekitarku, cukup satu yang aku mau. Yang menatap mataku dan tidak tertawa apalagi mengernyitkan alis hingga dekat mata, aku tak suka.

Entah sejak kapan aku mulai merasa tidak aman. Bahkan tidak nyaman berada dikamar sendirian, mengingat diriku lebih suka sepi dan keheningan.

Sebetulnya, aku belum mampu membedakan halusinasi, kenyataan, sugesti, juga alam bawah sadar. Otak kita terlaru rumit untuk dipelajari satu-satu, bukan? Singkat kata, aku hanya tau tidur dan bangun, itu saja. Tidur adalah ketika kita berada diatas pembaringan yang empuk, sementara otak kita mengembara, berjalan, kadang berlari atau sesekali bolehlah terjatuh. Atau kita lupa, blank semuanya menjadi hitam.
Aku masih merasa sedang memeluk bantal dengan erat, meski mataku terpejam tapi aku masih bisa mengingat-ingat mimpi semalam. Aku masih ingat kejadian dan aktivitasku dari pagi hingga malam, dan itu artinya aku sudah bangun.

Dan aku memang sedang terjaga dari tidur. Aku juga tahu bahwa ini alam nyata bukan kembang tidur, saat dimana ada suara memangil namaku, langkah, kelereng, tangis, atau bahkan suara berisik menusuk telinga yang akupun tak tahu apa itu.

***
Yang paling terbaru adalah kejadian semalam. Aku memang sudah terbangun dan agak sulit kembali tidur. Seingatku pukul 02.00 dini hari, sambil berbaring dibawah selimut aku masih asik mencocokkan pakaian dengan sepatu dipikiranku. Dan memang hanya itu yang sedang kupikirkan terus beberapa hari ini. Sontak aku kaget dan merasakan jantungku  berdebar sangat cepat saat kudengar sebuah benda memukul benda yang lain, awalnya aku anggap saja itu tikus loncat-loncat. Jantungku semakin berdegup kencang karena kemudian disusul pukulan pada tiang besi pegangan tangga. Baru kali itu aku merasakan jantungku bekerja maksimal. Tidak ada yang bisa aku lakukan, selain melusup dalam bantal dan berdo’a. Namu perlahan, suara bising itupun berhenti bersamaan dengan detak jantung yang kembali stabil.

Aku semakin sulit tidur. Mataku kupejamkan dengan paksa dibalik bantal. Suara detik jam menyadarkan bahwa malam masih panjang. Sekitar satu jam kemudian, kudengar suara pukulan pada pegangan tangga itu kembali. Dengan urutan nada yang lebih teratur. Jika ku tuliskan, mungkin seperti ini “tek-terektek-tek-tek” tidak asing kan? Lanjut, suara itu terus diulang beberapa kali, kadang sangat keras, pelan dan sangat pelan. Dalam keadaan cekam begitu, aku malah menjadi geli dan cenderung ingin tertawa mendengar pukulan yang sama diulang dan diulang lagi dengan nada yang sama sekali tak menakutkan. Yaah walaupun aku tegang juga sebetulnya. Aku sempat beranikan diri menengok kearah suara yang sudah berhenti tapi hanya terlihat sedikit dan sepi.

03.30
Waktu menunjukkan malam segera habis, tepatnya sudah habis (subuh). Tak lama, suara itu datang lagi. Sepertinya aku sudah tidak terlalu takut seperti tadi. Kunikmati saja, mau apa lagi? Kadang bunyi-bunyian juga muncul dari tempat lain. Misalnya suara yang aku tangkap seperti kuku yang diketuk. Seperti biasa, besi tangga itu kembali bunyinya. Malah lebih sering dan ditutup dengan pukulan yang mungkin pada bangku plastik didepan kamar. Bunyinya memang tak jauh dari sekitar situ. seperti orang bermain drum. “pemenangnya adalah ........”  Nah di titik2 itu biasanya ada suara drum, kurang lebih seperti itulah, dan tanpa akhiran.

Saat itu ada empat orang dikamar, tak satupun terbangun atau tersentak oleh suara yang lumayan sangat keras tepat didepan kamar. Mungkin hanya aku yang mendengar? Biarlah... toh paginya aku langsung pulang kerumah tanpa cerita apapun pada kaka, anak kakak (keponakan) dan tetangga yang menginap.
***
Pengalaman seperti ini, sudah lama tak pernah aku bagi selain pada teman dan orang terdekat. Tapi sulit juga meyakinkan mereka bahwa aku ini benar. Terkadang juga lebih baik diam. Karena akan menyakitkan jika orang lain mendengar tapi tak mengerti.

Beberapa kali aku tertarik dengan hal-hal yang tak banyak orang ketahui. Tapi aku tidak tahu jadinya akan begini. Hingga seiring waktu semua terasa semakin berarti.

Septi
15 Maret 2012

3.04.2012

Bimbang I Melly Goeslaw


Pertama kali aku tergugah
Dalam setiap kata yang kau ucap
Bila malam tlah datang
Terkadang ingin ku tulis semua perasaan

Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak ku fikirkan untuk ku benci saja
Dirimu namun sulit ku membenci

Pejamkan mata bila kuingin bernafas lega
Dalam anganku aku berada
Disatu persimpangan jalan yang sulit ku pilih

Ku peluk semua indah hidupku
Hikmah yang kurasa sangat tulus
Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa
Namun ada yang hilang separuh diriku


2.29.2012

.........



Sisa waktupun belumlah cukup untuk mengucap kata salam
Pada atap-atap, pada genting yang melindungi dari panas dan hujan
Pada setiap debu yang kusapu, tetesan air yang kusiram
Dan pada setiap kenangan yang melekat pada coretan-coretan di dinding

Tahun, bukanlah kata dan waktu yang sebentar
Ribuan memory tertinggal
Tahun, bukan waktu yang lama untuk melihatku tumbuh semakin besar

Titip salam, untuk atap dan lantai
Sampaikan, aku ingin melihatnya dewasa
Anak yang baru belajar jalan



Septi,
Bandung, Februari 2012

Jarak


Jarak itu bukan untuk dihitung
Bukan untuk dicaci
Bukan untuk disesali

Jarak itu seperti batas yang harus dilewati
Sungai yang harus disebrangi

Belajarlah dari jarak
Jarak bukanlah kata yang membuat kita berhenti
Ibarat cinta,
patut dijangkau dan diperjuangkan

Septi, 
Bandung, Februari 2012


2.23.2012

Senja Bawa Aku Pulang



Kutemukan senja terlantar dipersimpangan jalan.
Warnanya orange, kuning keemasan dan biru mulai memudar. 
Berlari, berlari, 
andaikata aku mampu mengejar senja yang hendak pergi
aku rengkuh tak dilepaskan lagi
Tawanya masih hidup diperapian senja yang hampir mati
Mengajakku bercerita, 
tertawa dan berangan tentang surga, 
meninggalkan segala rasa sakit yang tak aku pesan sendiri. 
Segera, 
sebentar lagi senja hilang dimakan malam yang kelam. 
Menyinari bola mata yang sendu, 
tak lekas aku menyingkap tangan, 
malah memandang senja yang terus menelusup dalamnya panca indera.  
Tak kerasan kupandangi senja yang menghilang.
Lalu senja, membawa aku... 
pulang


Musa (1)


Aku
Aku ini anak laki-laki biasa. Bila teman-teman seumuranku suka bermain bola, aku juga sama. Mereka punya orang tua, aku juga. Kalau dilihat-lihat, wajahku tidak jelek-jelek amat. Malahan hidungku lebih mancung daripada mereka.  

Orang-orang mengenalku dengan nama Musa. Mungkin kependekkan dari Muhammad Safaruddin, nama bubur merah bubur putihku. Entah siapa yang memulai memanggilku begitu, biarlah aku senang dengan nama itu. Aku telah duduk di bangku sekolah menengah, sebelum akhirnya ayah dan ibu mengirimku ke tempat yang paling aku benci, rumah sakit. Rasanya jari-jari tangan dan kakiku sudah kelimpungan menghitung banyaknya aku keluar masuk tempat itu.

Dengan segala keterbatasan yang aku miliki, syukurlah aku masih memiliki orang tua, sahabat dan Tuhan yang terus menyemangatiku untuk tak berhenti mengenyam pendidikan formal dan mencicipi indahnya dunia luar, yang kadang juga menyayat hati.

Pa Muhtar guru Bahasa Indonesia di Sekolah Dasarku dulu, pernah membacakan tugas mengarangku di depan kelas. Beliau menilai karanganku itu cukup bagus dan termasuk dalam sepuluh karangan terbaik disekolah. Aku sangat bahagia. Bagaimana tidak, beliau langsung membebaskanku dari ulangan minggu depan. Tetapi diwaktu yang sama, aku juga merasa sedih. Bahkan sangat sedih. Teman-teman sekelasku tertawa terpingkal saat Pa Muhtar membacakan judul tulisan buatanku. “Aku ingin seperti Maradonna”
“Hah.. ? ga salah mus..? hahaha” Deny teman sekelas yang paling sering mengejekku, tertawa sangat keras. Biarlah! setidaknya aku pernah dianggap kalau aku ini ada.
“heh, heh.. sudah sudah! Deny jangan tertawa kamu, karanganmu saja tidak sebagus Musa.” Begitulah Pa Muhtar, pembela kaum yang lemah.

****

Hari demi hari aku dapat lalui, dari sebuah tempat yang bernama sekolah. Hingga akhirnya aku mulai terbiasa dengan bulian teman-teman. Ejekkan mereka aku anggap hanya lelucon biasa. Walaupun tetap saja, sewaktu-waktu hatiku bisa terasa seperti diiris. Terkadang aku juga harus mencuri-curi waktu untuk menangis, saat keadaan sekolah sudah sepi. Bangku panjang di samping kelaslah yang menjadi saksi bisu suara hatiku, hampir setiap hari sembari menunggu ayah menjemputku. Ya, aku tak mampu pulang sendiri atau berjalan beriringan dengan teman, padahal sesungguhnya aku mau. Aku ingin.

Apa yang menjadi milikku tidaklah seindah milik orang lain. Nasib dan takdir yang Tuhan gariskan untukku juga tak seberuntung yang Tuhan gariskan untuk orang lain. Tapi sama sekali aku tak pernah menyinyir makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.

Walau dalam keadaan begini, aku masih selalu  merasa ada sentuhan keadilan Tuhan.  Tidak semua teman mencela dan memandang rendah diriku. Diselatan Kota Bandung, disebuah perkampungan kecil tempat dimana aku tinggal, aku juga memiliki beberapa sahabat yang memperlakukan diriku sama dengan mereka. Mereka yang mengenalku sejak dulu. Mereka yang menerima segala keterbatasanku. Mereka yang membantuku agar tidak membenci Tuhan. Dan hanya ada satu tempat, disamping merekalah aku tak mengenal kata ‘berbeda’.

2.21.2012

Kiat-Kiat Menulis yang Menjadikan Seseorang Dapat Menulis dengan Rasa Percaya Diri yang Sangat Tinggi


Oleh Hernowo
Menulis bisa sangat mudah dan bisa sangat sulit. Menulis—menulis apa pun—menjadi sangat mudah apabila seseorang, yang berniat menuliskan sesuatu itu, mengawali kegiatan menulisnya dengan cara menulis yang ditujukan kepada dirinya sendiri terlebih dahulu. Namun, menulis dapat tiba-tiba berubah menjadi monster yang sangat menakutkan alias sulit sekali dilakukan apabila, sebelum mengawali menulis, seseorang sudah memikirkan terlebih dahulu hal-hal yang berada di luar kendalinya—misalnya, bagaimana menemukan judul yang ”menggigit”, membuat pembuka yang menarik, atau memiliki argumentasi yang meyakinkan dan sangat kokoh.

Membuat judul yang baik, membuka tulisan dengan sesuatu yang menarik perhatian, atau memiliki referensi yang kokoh adalah penting. Namun, semua itu dapat dipikirkan dan ditemukan bukan di awal kegiatan menulis. Sebaiknya, itu dipikirkan setelah dia selesai mengeluarklan (menuliskan) bahan-bahan mentah yang ingin dijadikan sebuah tulisan—apakah itu berupa karya ilmiah, artikel opini, atau sebuah buku. Tak sedikit orang yang telah memiliki bahan yang baik dan juga potensi menulis yang lumayan, ujung-ujungnya, setelah kepayahan menulis, menjadi berhenti total menulis gara-gara tidak langsung dapat menuliskan (menemukan) sesuatu yang membuat dirinya percaya diri.

Dalam tulisan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda beberapa hal penting terkait dengan kegiatan menulis (menulis apa pun) dan bagaimana menghasilkan tulisan yang membuat diri sangat percaya diri. Saya berharap, gagasan saya ini dapat membantu Anda untuk menjadi mudah dalam menjalani kegiatan menulis dan, pada akhirnya, Anda juga dapat menghasilkan tulisan yang benar-benar dapat mencerminkan diri Anda. Materi tulisan ini, terutama, memang, saya tujukan untuk membuat diri Anda dapat menulis dengan penuh percaya diri. Tak berhenti di situ, saya berharap juga, nantinya, materi ini dapat membantu Anda dalam memanfaatkan kegiatan menulis untuk pengembangan diri.

Ada tiga materi yang akan saya sampaikan: Pertama, materi yang berkaitan dengan ”writer’s block” atau kebuntuan yang sering dialami oleh seorang penulis, baik penulis pemula maupun profesional; kedua, tentang ”kotak peralatan” (tool box)-menulis yang dapat Anda miliki dan manfaatkan untuk mengatasi kebuntuan atau kemacetan menulis yang tiba-tiba; dan ketiga tentang teknik menulis yang digagas dan dikembangkan oleh Natalie Goldberg (dalam bukunya Writing Down the Bones: Freeing the Writer Within), Peter Elbow (Writing without Teachers), dan James W. Pennebaker (Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions).

Tentang ”Writer’s Block”
Tentu, kita semua—yang pernah merasakan bagaimana repotnya menulis—memahami bahwa ada banyak sekali faktor yang membuat seseorang mengalami kemacetan atau kebuntuan menulis. Bagi saya, faktor-faktor itu dapat dikategorikan menjadi dua: teknis dan nonteknis. Problem-problem menulis yang bersifat teknis biasanya dapat dipecahkan dengan teknik-teknik menulis. Beberapa contoh: Jika seseorang tidak berhasil menemukan judul yang baik, dia dapat mendaftar pelbagai kombinasi kata yang memberikan arti baru dan berbeda terkait dengan materi inti atau gagasan yang ditulisnya. Lantas, jika seseorang tidak dapat menuliskan apa pun (blank) di layar komputernya—ketika ingin mengawali menulis—dia dapat, misalnya, menggunakan teknik ”free writing” (menulis bebas).

Berbeda dengan problem-problem teknis, problem nonteknis lebih rumit untuk dipahami dan diatasi karena sifatnya yang, kadang, tidak jelas (tidak mudah dipahami). Sebagai contoh sederhana, terkait dengan problem nonteknis, adalah: Bagaimana kita dapat merasa nyaman dan percaya diri ketika menuliskan sesuatu? Bagaimana pula kita dapat menemukan gagasan yang dahsyat? Dan bagaimana agar, selama menuliskan materi, kita dapat menjadikan gagasan awal itu berkembang sedikit demi sedikit dan akhirnya mencapai puncak? Contoh lain adalah terkait dengan bagaimana kita membangkitkan gairah dan semangat untuk mencicil menulis. Menulis tidak dapat sekali jadi. Jika menulis dipaksakan dan harus segera jadi, yang muncul adalah siksaan dan rasa frustrasi. Nah, bagaimana mengatasi pelbagai problem nonteknis menulis ini merupakan sesuatu yang sangat berbeda dengan yang bersifat teknis.

Berikut adalah daftar sebagian kecil ”writer’s block” yang terkait dengan problem nonteknis menulis:
1. Ketakutan mengeluarkan sesuatu yang “original” secara sangat bebas
2. Kebingungan menentukan materi yang ingin dikeluarkan
3. Ketidakpercayaan diri atas apa yang akan, sedang, dan telah dikeluarkan
4. Kemacetan dalam mengeluarkan sesuatu yang tidak dapat dipahami
5. Ketiadaan kreativitas—blank, buntu, gelap—yang memberikan tekanan

Di bawah ini adalah cara mengatasinya:
1. Tulis, tulis, tulis apa saja
2. Tidak ada yang sempurna di awal
3. Pembiasaan menulis secara kontinu dan konsisten
4. “Buang” saja yang membuat macet (Elbow dan Pennebaker)
5. Ubah perspektif dalam memandang sesuatu

Dapat merumuskan dan kemudian memahami ”writer’s block”—tanpa harus segera memecahkannya—sesungguhnya sudah sangat menguntungkan bagi seorang penulis. Setidaknya, dia dapat tidak memaksakan diri untuk terus menulis. Dia kemudian sadar bahwa menulis memang tidak bisa sekali jadi. Menulis perlu dicicil dan dikembangkan secara perlahan-lahan dan hati-hati. Terburu-buru atau tergesa-gesa menyelesaikan sebuah tulisan akan menghalanginya untuk menghasilkan tulisan yang baik—tulisan yang dapat membuat dirinya sangat percaya diri.

”Kotak Peralatan”-Menulis
Terkait dengan ”kotak peralatan”-menulis ini, marilah kita meminta bantuan Stephen King. Siapa King? King adalah penulis novel ”thriller” kondang yang sangat produktif. Beberapa novelnya telah dilayarlebarkan. Salah satu yang terkenal (dan mencekam) adalah film Green Mile yang pemeran-utamanya Tom Hanks. Pada tahun 2000, King menerbitkan karya nonfiksi satu-satunya, On Writing: A Memoir of the Craft. Karya nonfiksi King ini telah mendapatkan banyak pujian, antara lain mendapatkan penghargaan berupa ”Bram Stoker Award 2000”, ”Horror Guild 2001”, dan ”Locus Award 2001”. Dalam karyanya ini, King menceritakan secara menarik tentang pengalamannya menulis dan apa itu menulis dalam pandangannya.

Saya menemukan istilah ”kotak perkakas”-menulis di buku On Writing. Secara sangat impresif, King mengisahkan ihwal ”kotak perkakas”-menulis mulai di halaman 145. Ketika itu, King berusia sembilan tahun. Dia punya paman bernama Oren. Paman Oren berprofesi sebagai tukang kayu. Pada suatu hari, rumah yang ditempati King pintunya rusak. Paman Oren pun diminta untuk membetulkan pintu yang rusak tersebut. King melihat Paman Oren membawa ”kotak perkakas” (tool box) yang beratnya dapat mencapai 60 kilogram. Ternyata, Paman Oren hanya mengambil satu jenis obeng untuk membetulkan pintu tersebut. King merasa heran. Mengapa hanya perlu satu obeng kok Paman Oren harus membawa-bawa ”kotak perkakas” yang sangat berat.
”Ya; tapi Stevie,” kata Paman Oren melihat keheranan King, ”aku tidak tahu apa lagi yang akan kutemukan begitu aku sampai di sini. Yang paling tepat adalah aku membawa semua peralatan itu. Jika tidak, kau biasanya akan menemukan sesuatu yang tidak kauharapkan dan jadi kecewa.” Dari pengalaman pada masa kecilnya itu, King kemudian menulis: ”Aku ingin menyarankan bahwa untuk menghasilkan tulisan terbaik—sesuai dengan kemampuanmu—kau harus menyediakan kotak perkakasmu sendiri dan kemudian mengerahkan seluruh tenagamu agar kau bisa mengangkat kotak perkakas itu. Selanjutnya, bukannya melihat betapa sulitnya pekerjaan yang harus kau lakukan dan menjadi tidak bersemangat, sebaiknya kau segera mengambil peralatan yang tepat dan langsung mulai bekerja.”

Salah satu peralatan penting menulis yang harus ada di ”kotak perkakas”-menulis, menurut King, adalah kosakata. Saya menamakannya dengan kekayaan bahasa. Seorang penulis mungkin sudah memiliki banyak teknik menulis. Hanya teknik-teknik menulis itu tidak akan bermanfaat—misalnya untuk mengatasi problem teknis menulis—jika dia tak memiliki kekayaan bahasa. Menulis adalah mengeluarkan sesuatu dari dalam diri—baik itu berupa pengalaman, pengetahuan, atau gagasan—dengan bantuan kata-kata. Jika seorang penulis miskin bahasa atau kata-kata, dia akan kesulitan mengeluarkan dan merumuskan gagasannya. Bagaimana agar kita kaya kata-kata? Kuncinya adalah dengan rajin membaca teks-teks yang ”bergizi”.

Selain kosakata, saya mengusulkan dua peralatan lagi yang harus tersedia di ”kotak perkakas”: mengikat makna dan pemetaan pikiran (mind mapping). Mengikat makna adalah sebuah konsep yang saya temukan untuk membuat kegiatan membaca seseorang menjadi efektif dan kegiatan menulisnya pun akan menjadi mudah dan lancar. Inti konsep mengikat makna adalah ”membaca memerlukan menulis dan menulis memerlukan membaca”. Sementara itu, pemetaan pikiran adalah sebuah cara untuk mengembangkan ide dan menemukan ide yang tidak biasa. Pemetaan pikiran, yang ditemukan oleh Tony Buzan, kemudian dikembangkan oleh Dr. Gabriele L. Rico menjadi teknik ”clustering”. Teknik ”clustering” ini sangat berguna untuk menjalankan kegiatan menulis yang alamiah.

Teknik Menulis Bebas
Kata-kata Rhenald Kasali yang saya kutip di paling awal tulisan ini, saya peroleh dari artikel-menariknya di Kompas edisi Selasa, 20 April 2010. Judul artikel itu ”Orang Pintar Plagiat”. Bagaimana agar kita dapat menuliskan sesuatu yang ”original” yang berasal dari pikiran kita sendiri? Gunakanlah teknik menulis bebas (free writing) ketika Anda sedang berlatih menulis atau menjalankan kegiatan awal menulis. Ada tiga tokoh yang saya rujuk terkait dengan teknik menulis bebas. Pertama, Natalie Goldberg. Natalie adalah instruktur menulis bebas yang sangat terkenal di Amerika Serikat. Kedua, Peter Elbow. Elbow adalah profesor bahasa dan Direktur Program Menulis di Universitas Massachusetts, Amherst, Amerika Serikat. Dan ketiga, Dr. James W. Pennebaker, seorang psikolog peneliti yang meneliti tentang kegiatan menulis yang dapat menyembuhkan.

Sebagaimana telah saya tunjukkan di bagian sebelum ini, Natalie menulis buku berjudul Writing Down the Bones: Freeing the Writer Within (1986). Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2005 dengan judul Alirkan Jati Dirimu: Esai-Esai Ringan untuk Meruntuhkan Tembok-Kemalasan Menulis. Natalie, dalam bukunya, memang tak hanya mengajarkan kepada kita bagaimana menulis bebas. Dia meminta kepada siapa saja yang menggunakan tekniknya untuk kemudian menemukan jati dirinya selama menulis bebas. Bagi saya, mengalirkan jati diri identik dengan mengalirkan sesuatu yang “original” yang berasal dari diri kita.

Berbeda dengan Natalie, Elbow lebih menekankan bagaimana seorang penulis dapat meraih kenyamanan terlebih dahulu ketika ingin memulai kegiatan menulis. Kenyamanan menulis sangat penting untuk diraih di awal sebelum seorang penulis berhasil mengeluarkan ide-ide hebatnya. Dalam bukunya, Writing without Teachers (terbit pertama kali pada 1973 dan kemudian direvisi pada 1998)—edisi revisi karya Elbow sudah diterjemahkan pula dengan judul Merdeka dalam Menulis (2007)—Elbow menginginkan agar seseorang, ketika mengawali menulis, bagaikan sedang menyampaikan sesuatu secara lisan (berbicara). Teknik menulis bebasnya ini ingin mengajak setiap penulis untuk tidak buru-buru mengoreksi apa yang sudah berhasil dikeluarkannya secara tertulis.

Nah, lewat risetnya, Dr. Pennebaker menemukan bahwa kegiatan menulis yang sangat bebas (”opening up” atau blak-blakan) dapat membantu seseorang untuk mengatasi tekanan hebat (depresi). Riset Dr. Pennebaker kemudian dibukukan pada tahun 1990. Saya pernah mmepraktikkan saran Dr. Pennebaker ini untuk “membuang”—dengan memanfaatkan kegiatan menulis—seluruh materi yang menggangu pikiran saya. Materi atau “sampah” pikiran itu saya keluarkan secara mencicil dan setiap kali selesai (karena lelah), saya berhenti dan tidak membaca materi tersebut. Saya biasa mengendapkannya sehari. Materi “sampah” itu saya baca dengan cara menyeleksi (bukan mengoreksi). Saya membuang yang tidak perlu dan kemudian mengumpulkan materi—di antara tumpukan materi “sampah”—yang benar-benar sangat penting dan berharga bagi diri saya.

Efek yang saya rasakan dalam menjalankan kegiatan menulis dengan teknik “opening up” ini luar biasa! Pada tahun 2001 hingga 2005, ketika usia saya melewati angka 44, saya dapat membuat buku sebanyak 24 judul. Jika dipukul rata, setiap dua bulan sekali, lahirlah satu buku karya saya. Bukan hasil yang banyak dan cepat itu yang ingin saya banggakan di sini. Lewat pemanfaatan teknik ”opening up”, saya dapat membebaskan diri saya dari segala “penjara” aturan menulis—ketika saya ingin memulai menulis. Aturan menulis tentu baik-baik saja dan dapat memandu kita untuk menghasilkan tulisan yang baik. Hanya jika aturan menulis itu kemudian berubah menjadi kerangkeng—menjadikan kita ragu-ragu dalam mengeluarkan pikiran kita—tentulah itu dapat membuat diri kita impoten (tidak mampu) menulis.

source : here