3.27.2012

Jun



Kami duduk pada anak tangga yang sama. Tak satu patah katapun keluar dari mulutku begitu juga Jun. Tiba-tiba Jun menangis.

“Kenapa Jun, ada apa?”

Tapi tidak aku lakukan.

“Jun! aku punya game baru, main yuk!”

Ada dua pilihan : diacuhkan; atau mendapat omelan. Aneh. Dalam situasi begini, lebih mudah merayu anak kecil daripada perempuan seumuran.
Apa peduliku? Mengapa jadi bingung begini?

“Kangen teman-teman ya?”

“Kita habis belanja kemarin. Sayang, hanya satu hari. Setelah itu mereka pulang lagi.”

Egois sekali! Untuk apa mencari yang tidak ada atau yang sudah pergi? Banyak orang menyayangi Jun disini. Yang ingin menjadi temannya banyak. Lebih dari itu sahabat atau teman dekat. Yang dia perlukan hanyalah membuka diri.

“Hey! kamu tidak harus mengabiskan uang jika menjadi teman kami!”

Lagi-lagi, aku makan sandal hari ini.


3.24.2012

Jarak (2)

copyright komentar puisiku/ jendelasastra

JARAK ITU MENYIMPAN
JARAK ITU MENYIMPAN RINDU
MENYIMPAN KEHANGATAN DI SAAT ADA
JARAK ITU ADALAH WAKTUMU UNTUK MENGINGATKU
by: jufri naldi

Berjarak Tapi Tak Berukur
waktu tempur yang tak berukur
memusat ke satu ruang
terhenti,terhenti dan berakhir
dari lahir ke liang kubur.......
by: LL. fiano

Pungutlah Jarak
pungutlah jarak di reruntuhan waktu
yang melantunkan lagu kalbu membatu
bersama serpihan pelangi membelit
rindu. begitu jauh terbersit
by: edi sst


Selamat Tidur


Kucoba memulainya dari cinta. 

Cinta meniti kebahagiaan rapuh tanpa bisa kutemukan letak tiang-tiang penyangga yang menguatkannya agar tetap berdiri pada porsi cinta yang wajar.

Kita menyebutnya cinta. Walau hanya berupa amarah dan air mata yang tak ada habisnya. Cinta memberikan senyuman yang manisnya melebihi coklat dan gula. Sedetik kemudian melebur menjadi tetesan air mata. Apakah cinta selalu begitu? Tidak tahu.

Akan kumakan semua, aku habiskan, hingga tak ada lagi sisa. Hanya karena aku tahu kau istimewa.

Aku menyayangimu, selamat malam  selamat pagi.

3.23.2012

Malaikat Juga Tahu



"... mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia. dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. tidak penting. ia sudah tahu. cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang."

Malaikat juga tau | Dewi Lestari

lelahmu...jadi lelahku juga
bahagiamu...bahagiaku pasti
berbagi takdir kita selalu
kecuali tiap kau jatuh hati

kali ini hampir habis dayaku
membuktikan padamu ada cinta yang nyata
setia hadir setiap hari
tak tega biarkan kau sendiri
meski seringkali kau malah asyik sendiri

karena kau tak lihat
terkadang malaikat tak bersayap
tak cemerlang, tak rupawan
namun kasih ini, silakan kau adu
malaikat juga tahu
siapa yang jadi juaranya

hampamu tak kan hilang semalam
oleh pacar impian, tetapi kesempatan
untukku yang mungkin tak sempurna
tapi siap untuk diuji
ku percaya diri, cintakulah yang sejati

namun tak kau lihat
terkadang malaikat tak bersayap,
tak cemerlang, tak rupawan
namun kasih ini, silakan kau adu
malaikat juga tahu
siapa yang jadi juaranya

kau selalu meminta terus kutemani
dan kau s'lalu bercanda andai wajahku diganti
melarangku pergi karena tak sanggup sendiri

namun tak kau lihat
terkadang malaikat tak bersayap,
tak cemerlang, tak rupawan
namun kasih ini, silakan kau adu
malaikat juga tahu
aku kan jadi juaranya


3.15.2012

Cerita Malam


Terkadang kita hanya butuh satu tempat untuk bertanya, mungkin lebih pada seseorang yang berpengalaman agar kita langsung mendapat jawaban. Tapi tidak juga, seseorang yang bisa diajak bercerita saja setidaknya bisa lebih menyenangkan.

Hanya satu dari sekian banyak pilihan disekitarku, cukup satu yang aku mau. Yang menatap mataku dan tidak tertawa apalagi mengernyitkan alis hingga dekat mata, aku tak suka.

Entah sejak kapan aku mulai merasa tidak aman. Bahkan tidak nyaman berada dikamar sendirian, mengingat diriku lebih suka sepi dan keheningan.

Sebetulnya, aku belum mampu membedakan halusinasi, kenyataan, sugesti, juga alam bawah sadar. Otak kita terlaru rumit untuk dipelajari satu-satu, bukan? Singkat kata, aku hanya tau tidur dan bangun, itu saja. Tidur adalah ketika kita berada diatas pembaringan yang empuk, sementara otak kita mengembara, berjalan, kadang berlari atau sesekali bolehlah terjatuh. Atau kita lupa, blank semuanya menjadi hitam.
Aku masih merasa sedang memeluk bantal dengan erat, meski mataku terpejam tapi aku masih bisa mengingat-ingat mimpi semalam. Aku masih ingat kejadian dan aktivitasku dari pagi hingga malam, dan itu artinya aku sudah bangun.

Dan aku memang sedang terjaga dari tidur. Aku juga tahu bahwa ini alam nyata bukan kembang tidur, saat dimana ada suara memangil namaku, langkah, kelereng, tangis, atau bahkan suara berisik menusuk telinga yang akupun tak tahu apa itu.

***
Yang paling terbaru adalah kejadian semalam. Aku memang sudah terbangun dan agak sulit kembali tidur. Seingatku pukul 02.00 dini hari, sambil berbaring dibawah selimut aku masih asik mencocokkan pakaian dengan sepatu dipikiranku. Dan memang hanya itu yang sedang kupikirkan terus beberapa hari ini. Sontak aku kaget dan merasakan jantungku  berdebar sangat cepat saat kudengar sebuah benda memukul benda yang lain, awalnya aku anggap saja itu tikus loncat-loncat. Jantungku semakin berdegup kencang karena kemudian disusul pukulan pada tiang besi pegangan tangga. Baru kali itu aku merasakan jantungku bekerja maksimal. Tidak ada yang bisa aku lakukan, selain melusup dalam bantal dan berdo’a. Namu perlahan, suara bising itupun berhenti bersamaan dengan detak jantung yang kembali stabil.

Aku semakin sulit tidur. Mataku kupejamkan dengan paksa dibalik bantal. Suara detik jam menyadarkan bahwa malam masih panjang. Sekitar satu jam kemudian, kudengar suara pukulan pada pegangan tangga itu kembali. Dengan urutan nada yang lebih teratur. Jika ku tuliskan, mungkin seperti ini “tek-terektek-tek-tek” tidak asing kan? Lanjut, suara itu terus diulang beberapa kali, kadang sangat keras, pelan dan sangat pelan. Dalam keadaan cekam begitu, aku malah menjadi geli dan cenderung ingin tertawa mendengar pukulan yang sama diulang dan diulang lagi dengan nada yang sama sekali tak menakutkan. Yaah walaupun aku tegang juga sebetulnya. Aku sempat beranikan diri menengok kearah suara yang sudah berhenti tapi hanya terlihat sedikit dan sepi.

03.30
Waktu menunjukkan malam segera habis, tepatnya sudah habis (subuh). Tak lama, suara itu datang lagi. Sepertinya aku sudah tidak terlalu takut seperti tadi. Kunikmati saja, mau apa lagi? Kadang bunyi-bunyian juga muncul dari tempat lain. Misalnya suara yang aku tangkap seperti kuku yang diketuk. Seperti biasa, besi tangga itu kembali bunyinya. Malah lebih sering dan ditutup dengan pukulan yang mungkin pada bangku plastik didepan kamar. Bunyinya memang tak jauh dari sekitar situ. seperti orang bermain drum. “pemenangnya adalah ........”  Nah di titik2 itu biasanya ada suara drum, kurang lebih seperti itulah, dan tanpa akhiran.

Saat itu ada empat orang dikamar, tak satupun terbangun atau tersentak oleh suara yang lumayan sangat keras tepat didepan kamar. Mungkin hanya aku yang mendengar? Biarlah... toh paginya aku langsung pulang kerumah tanpa cerita apapun pada kaka, anak kakak (keponakan) dan tetangga yang menginap.
***
Pengalaman seperti ini, sudah lama tak pernah aku bagi selain pada teman dan orang terdekat. Tapi sulit juga meyakinkan mereka bahwa aku ini benar. Terkadang juga lebih baik diam. Karena akan menyakitkan jika orang lain mendengar tapi tak mengerti.

Beberapa kali aku tertarik dengan hal-hal yang tak banyak orang ketahui. Tapi aku tidak tahu jadinya akan begini. Hingga seiring waktu semua terasa semakin berarti.

Septi
15 Maret 2012

3.04.2012

Bimbang I Melly Goeslaw


Pertama kali aku tergugah
Dalam setiap kata yang kau ucap
Bila malam tlah datang
Terkadang ingin ku tulis semua perasaan

Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak ku fikirkan untuk ku benci saja
Dirimu namun sulit ku membenci

Pejamkan mata bila kuingin bernafas lega
Dalam anganku aku berada
Disatu persimpangan jalan yang sulit ku pilih

Ku peluk semua indah hidupku
Hikmah yang kurasa sangat tulus
Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa
Namun ada yang hilang separuh diriku


2.29.2012

.........



Sisa waktupun belumlah cukup untuk mengucap kata salam
Pada atap-atap, pada genting yang melindungi dari panas dan hujan
Pada setiap debu yang kusapu, tetesan air yang kusiram
Dan pada setiap kenangan yang melekat pada coretan-coretan di dinding

Tahun, bukanlah kata dan waktu yang sebentar
Ribuan memory tertinggal
Tahun, bukan waktu yang lama untuk melihatku tumbuh semakin besar

Titip salam, untuk atap dan lantai
Sampaikan, aku ingin melihatnya dewasa
Anak yang baru belajar jalan



Septi,
Bandung, Februari 2012